Sri Huning's

About me! tray to enjoy our existence… so there is …

Tour de Sukabumi “Curug Sawer dan Situ Gunung”

Rencana untuk berlibur bersama istri sudah kususun sejak jauh hari di akhir tahun 2014, mulai dari booking penginapan, beli tiket, sampai dengan mencari referensi melalui web site/blog yang menceritakan pengalaman orang yang pernah ke”sana”. Ya.. tentunya sesuai judul wisata ke “sukabumi, Curug Sawer dan Situ Gunung”. Tempat wisata tersebut banyak diulas oleh para wisatawan dalam negeri, sehingga membuat kami penasaran dengan kebenaran akan keindahan yang mereka sampaikan. Tentunya, tidak perlu saya jelaskan berpanjang lebar apa itu Situ Gunung dan apa itu Curug Sawer karena anda akan banyak temui di web atau blog lain.

Tujuan dari trip wisata kali ini adalah untuk mensyukuri nikmat Tuhan atas keindahan alam, refreshing melepaskan penat akan pekerjaan, mencari objek pelampiasan untuk photo-photo narsis (untuk menuh-menuhin gambar di facebook ajah wkwkwkwk), dan tentunya honey moon donk.. (sebenarnya ini adalah janji ke istri saya hampir tujuh tahun lampau hahaha.. akan mengajaknya berwisata berdua di puncak, karena  puncak macet dan rame, maka cari puncak yg lain donk, puncak sukabumi hahahaha.. my promise is done..)

Bagi para sobat pecinta wisata tentu yang paling utama adalah perencanaan untuk menuju tempat wisata yang dikehendaki. Kalian bisa mulai searching di internet terkait dengan Situ Gunung dan Curug Sawer guna mengumpulkan informasi sebanyak-banyak “tentu salah satunya dari akun saya hehehehe…!”

Baiklah akan saya mulai cerita perjalanan saya yang sekaligus berfungsi sebagai pelaporan kegiatan kepada istri saya (terkait pelaporan keuangan tentunya… ha ha ha ha). Mulai waktu yang kami rencanakan untuk berapa lama stay di tempat wisata, kami berniat untuk stay selama satu hari, mukai dari sabtu malam sampai dengan minggu sore, atau lebih tepatnya tanggal 31 Januari s.d. tanggal 1 Pebruari 2015. Maka yang terpikirkan adalah mencari penginapan yang representatif dan nyaman, dan untuk masalah ini pilihan jatuh pada Vila Cemara Indah. Vila ini telah banyak direkomendasikan banyak orang karena memiliki beberapa kelebihan, antara lain:

  1. Kamar dan fasilitas yang representatif, dapat anda lihat di http://www.tripadvisor.co.uk/Hotel_Review-g297714-d2173691-Reviews-Villa_Cemara_Situgunung-Sukabumi_West_Java_Java.html
  2. Harga yang terjangkau, saya sarankan untuk keluarga kecil atau yang hanya 2-4 orang dapat menggunakan kamar non kayu dengan biaya Rp.300.000,-
  3. Letak penginapan yang tepat di depan gerbang loket situ gunung, memudahkan anda untuk mencapai situ gunung dalam waktu kurang lebih 15 menit. Hal inilah yang sering dicari para fotografer, karena umumnya mereka akan ke situ gunung pagi-pagi sekali guna mendapatkan view/objek gambar yang bagus.
  4. Fasilitas makan dan minum, dimana anda bisa membeli sarapan ulai dari jam 5 pagi (nasi uduk spesial @Rp.20.000,- atau indomie telor @Rp.10.000,-), makan siang s.d. sore ada tambahan soto ayam kalo ga salah @Rp.20.000,-, dan makan malam sampai dengan jam 10 malam hanya ada indome telor he he he he. Tapi sodara.. untuk minum anda telah disediakan air panas berikut teh, kopi dan gula gratis, memang baek bener owner-nya ha ha ha.
  5. Fasilitas kamar tadi terdiri dari mandi air panas, televisi parabola, selimut dua buah, colokan listrik untuk charger HP, dan kasur yang nyaman, termasuk sabun mandi, kecuali handuk, shampo, dan sikat gigi/odol harus anda sediakan sendiri.
  6. Yang terakhir adalah, keramahan owner penginapan, eitts.. tapi banyak yang bilang beliau paling galak sama orang yang gak mematuhi peraturan tentang kebersihan, jadi jadilah orang yang selalu menjaga kebersihan dengan membuang sampah pada tempatnya..h..he..he..

Untuk melihat alamat wordpress resmi dari vila cemara indah ada di https://villacemarasitugunung.wordpress.com/. yang dijamin keasliannya, karena saya juga mendapat kontak dari owner dan informasi yang akurat dari alamt ini, dan ingat pesanlah jauh jauh hari sebelumnya mengingat tingkat occupancy (hunian) dari vila ini cukup padat di hari weekend.

Baiklah para sobat, selanjutnya untuk masalah akomodasi/transportasi ke situ gunung akan saya jelaskan secara runtut dari mulai rumah sampai dengan lokasi vila. Kondisi yang ada pada saya dapat anda simak secara seksama dan sepanjang-panjangnya pada uraian berikutnya.

URAIAN PERJALANAN

Rumah saya kebetulan dan memang sudah jodohnya ada di Perumahan Sarana Indah Residence, samping gerbang Inkopad, Kelurahan Kalisuren, Kecamatan Tajurhalang, Kab. Bogor. Oleh karena itu starting point pemberangkatan saya tentunya dari Stasiun Bojonggede yang berada di jalur KRL Commuter Line jurusan Manggarai-Bogor. Bagi yang berminat untuk menggunakan Commuter Line acuannya adalah Stasiun Manggarai, karena semua jurusan baik dari Kota, Tanah Abang atau dari Bekasi semua akan berhenti di Manggarai. Perhatikan waktu tempuh perjalanan anda dari Manggarai-Bogor umumnya kurang lebih 1 jam perjalanan dan untuk amannya kasih spare time setengah jam sehingga perhitungkan untuk waktu tempuh 1,5 jam.

Selanjutnya, di Stasiun Bogor kita menuju arah keluar stasiun, ikutilah jalur yang menuju ke jembatan penyeberangan. Di atas jembatan tersebut anda ikutin arah yang menyeberang dengan belok kiri, dan setelah sampai ke seberang anda coba tanya ke orang-orang sekitar dimana letak Stasiun Paledang. Letak stasiun ini sebenarnya dekat tapi dia nyempil, dan stasiun ini tidak sebesar Stasiun Bogor, dengan cukup mengikuti jalur rel kereta yang ada palang pintu, anda akan menemukan dengan sendirinya he..he..he.. Stasiun Paledang 1IMG_20150131_180615

Ingat dan perhatikan jadwal Kereta Pangrango yang akan mengantar anda ke arah Sukabumi, ada 3 kali jadwal keberangkatan 07.55 pagi, 13.25 siang, dan 18.30 malam,dengan waktu tempuh yang diperlukan adalah +/- 2 jam. Pemesanan tiket juga ada baiknya anda lakukan jauh-jauh hari sebelumnya, mengingat kereta/gerbong yang tersedia tidak banyak, apalagi jika jadwal yang anda inginkan adalah waktu weekend. Untuk pemesanan dapat anda gunakan fasilitas https://tiket.kereta-api.co.id/ dan jangan lupa untuk reservasi gunakan stasiun asal Bogor, karena tidak ada nama Stasiun Paledang di web tersebut.

Kami mengambil trip untuk Kereta Pangrango jadwal terakhir dan tiba di stasiun Cisaat (stasiun sebelum Stasiun Sukabumi) kurang lebih jam 09.00 malam. Para tukang ojek sudah banyak yang menawarkan diri dengan jasanya, anda tidak perlu takut karena mereka ramah dan tidak “mbogok” istilah jawa dari hantam harga. Terus terang sebenarnya saya agak khawatir sebelumya mengingat ini adalah trip pertama saya ke Sukabumi, dan akhirnya saya tanya satu tukang ojek dengan gaya cool, calm, and confident ha ha ha. “Berapa kang ke vila cemara pas di gerbang situ gunung?” dan diminta 25 ribu untuk sampai kesana, saya sempat ragu mengingat di referensi yang saya dapatkan umumnya lebih dari itu. Namun pada akhirnya saya iyakan ajah he..he..he.. “murah bro..” Ehm.. di perjalanan ke arah Situ Gunung ternyata saya lupa membawa jaket dari rumah bro…, alamakjang, mamayo.. tobaat, udah gerimis kedinginan lagi, namun ajaibnya saya selama perjalanan dan di sukabumi ga ada namanya masuk angin, walaupun tanpa minum jamu atau antangin, tolakangin, minggatangin, atau angin-anginan yang lain, atau ini karena udara disini yang murni dan bersih ya “analisis yang asal sodara…”. Jangan sampai lupa bawa jaket, karena saya waktu berangkat memang lagi hujan deras dan pakai mantel sehingga lupa bawa jaket.

nb: Penyesalan seumur hidup ke gunung gak paket jaket, seperti halnya makan rawon ga ada daging empalnya, seperti sayur tanpa garam, bukan masalah dingin atau hujan tapi aku gak bisa nutupin tubuh semlohaiku hahaiiiiiiiiiiii…

Selanjutnya, berangkatlah kami dengan dua ojek naik emnuju situ gunung dengan waktu tempuh +/- 30 menit, saat diatas mendekati vila udara semakin dingin dan kabut tebal mulai turun, suasana mendadak menjadi “romanse” alias romantis seram bersama tukang ojek hehehehe. Kita sampai pas di gerbang Situ Gunung dan mulailah ada kebingungan “Ini letak vilanya dimana ya? katanya dekat gerbang” akhirnya berteleponlah kita ke ownernya, dan dikasih tahu.. ya ela.. rupanya papan penunjuk nama yg ada gambarnya cemara gak keliatan, karena penerangan yang ad kurang moncer alias terang, “saran saya ke ownernya melalui tulisan ini, hendaknya papan nama dikasih lampu penerangan yg cukup, biar langsung bisa tahu pas malam-malam nyampeknya”.

Diantarlah kita berdua ke kamar sama putri owner (saya lupa namanya) ke yang telah disediakan, dan disampaikan bahwa “Ibuk sebentar lagi tidur kalo mau pesen makan adanya tinggal indomie telur” yah akhirnya untuk menghangatkan badan saya segera pesan indomie tersebut. Habis makan saatnya untuk beristirahat sambil nonton televisi. Ada yang aneh dan mengingatkan saya pada kehidupan lampau, seakan de’javu, televisi parabola dengan receivernya.. ah ini seakan saya kembali ke papua lagi, dimana untuk menonton acara tv nasional harus beli parabola berikut receivernya. Tak lupa mandi air hangat sebelum tidur paling menentramkan.. (untuk foto fasilitas gambar dapat dilihat di akun wordpresnya vila cemara). Foto kamar yang saya tempati sbb:

SAM_2042 SAM_2043 SAM_2044 SAM_2046 SAM_2049 SAM_2051

Fajar menjelang, jam 5 pagi sudah bangun dan sholat Subuh, buat teh hangat dan kopi, selanjutnya mandi dan menikamti udara segar, sambil kupandangi bukit nan hijau disamping vila. Jam 6 pagi kita turun untuk memesan sarapan pagi, kalau mau cepet ya nasi uduk spesial hahaha. Selanjutnya acara beralih wisata jalan kaki ke arah Situ Gunung dengan membawa peralatan yang cukup memadai (persiapkan sekalian ke Curug Sawer) antara lain:

  1. Sandal gunung, karena jalannya yang berbatu dan cenderung licin (sandal gunung eager yang saya pakai gratis acara kantor, sedangkan sandal gunung yang dipakai istri saya merk carvil cuman Rp.150.000);
  2. Tas Eager, untuk membawa peralatan, juga gratis dari acara kantor hahahaha (kalo beli Rp.475.000);
  3. Payung, untuk jaga-jaga kalo hujan, dan ternyata memang gerimis tapi gak selalu sih, sesusai penjelasan tukang ojek bahwa daerah Situ Gunung nggak ada musim kemarau, tiap hari “always rainy day”;
  4. Kamera, untuk senjata narsis kita tentunya; dan
  5. Air minum tentunya.

Dari vila langsung ketemu gerbang, dicegatlah kita sama tukang ojek “eittsss mau apaan loh bang?” kagak ding becanda, pada baek semua kok tukang ojeknya, karena baru saya temua tukang ojek terbaik di Indonesia hanya ada disini, selain ramah mereka juga menjadi pemandu wisata yang baek. Kita ditanya apakah sudah bayar retribusi/tiket masuk, dan jika belum bisa bayar di tukang ojeknya.. kayaknya mereka punya tugas sampingan membantu penjaga loket masuk (nggak mungkin banget pagi pagi begini sudah ada petugas loketnya yang pegawai negeri sipil.. “eits menyindir diri sendiri kah?’ mamma yooo”).  Untuk tiket masuk anda cukup merogoh kocek Rp.13.500/orang dan selanjutnya silahkan berjalan ambil jalan sebelah kiri dari gerbang +/- 15-20 menit anda akan sampai di Situ Gunung yang indah.

SAM_1874SAM_1880SAM_1888 SAM_1895

kembali ke tukang ojek yang tadi di gerbang, Selama di perjalanan menuju Situ Gunung tak bosan dia mencoba menawarkan jasa ojeknya, senangnya orangnya tetep ramah dan tidak memaksa. Dengan alasan akan ke Situ Gunung juga nunggu orang yang mau ke Curug Sawer sempet-sempetnya nawarin untuk ikut naik bonceng ojeknya gratis hahahaha, namun tetep kita tolak secara sopan “lagi pengen jalan mas, sekalian olahraga” lumayan berat memang bagi orang seperti saya yang jarang olahraga, nafas tersengal sengal seakan sudah tiba ajal dan aku terus menjajal jalanan yang curam dan terjal (walah kok dadi puitis banget yo…). Dari awal Tukang ojek menawarkan jasa dengan imbalan ke Situ Gunung-PP plus ke Curug Sawer-PP sebesar Rp.150.000/orang dengan rincian (Situ Rp.25.000 dan Curug Rp. 50.000) kali dua trip pulang pergi.

Di Situ kami melihat-lihat keindahan dan mencoba naik perahu yang hanya ada satu biji (sebelumnya ada dua kata tukang perahunya, tapi udah rusak), dengan tarif Rp.10.000/orang untuk keliling situ gunung (-/+ 15 s.d. 20 menitan). Sangat mengasyikkan tentunya dan kita tak lewatkan berfoto foto riang hahaha. Di Situ Gunung ini kami bertemu dengan rombongan fotografer, dan beberapa orang yang salah satunya adalah traveler juga dengan blog yang merupakan salah satu referensi saya http://parah1ta.jalanjalanyuk.com/one-fine-day-in-sukabumi/.

Puas kita di Situ gunung, pertama yang ada dalam benak langsung balik ke vila, karena kita masih ragu apakah lanjut ke Curug Sawer atau kita sudahi saja, mengingat untuk jalan menanjak balik ke vila saja udah ngos ngosan, bisa putus nafas nih kali ke Curug Sawer. Tapi memang udah jodoh harus ke curug, tukang ojek baik hati tadi tetep pura-pura balik ngikutin kita balik juga dari situ. Di pertengahan jalan ke vila, dengan rayuan terminal sang tukang ojek akhirnya kita terpengaruh juga, “gimana nih nduk ojeknya minta 50 ribu ajah ke curug?, katanya aman kok udah terlatih” yah akhirnya dengan enak hati “hahaha” kita terbujuk rayu tukang ojek ganteng “wooo ganteng saya keless, apa iya ya” dari pertengahan perjalanan ke vila langsung ke curug.. “untung dikit gak usah nerusin jalan kaki.. hehehe”.

Perjalanan naik ojek ternyata kita menuju arah luar gerbang Situ Gunung, tidak melewati arah kanan dari gerbang (kiri=situ, kanan=curug), melewati jalan aspal saat kita datang dari stasiun ke vila. Di tengah perjalanan belok kiri ke arah pos gerbang Curug Sawer, lanjut membayar retribusi/tiket masuk sebesar Rp.2500,-/orang. Nah mulai dari pos jaga ini lah “the show must begin” alamakjang……. itu jalan kecil, berbatu dan lumpur, naik dan turun curam, dan yg mengasikkan adalah disamping kiri jurang di samping kanan tebing tanah. Saya sempat meragukan beberapa referensi yang menyebutkan seperti demikian keadaannya, saya pikir karena mereka wanita jadi agak lebay dalam menulis tentang jalan ojek ke Curug Sawer, ternyata memang begitu adanya… “maaf ya mbak..buk… anda benar adanya…hahahaha.. jantung saya lebih sehat sekarang karena sudah diolahragakan disana.. hahaha”. Saya mendapat info dari istri saya, atas wawancaranya dengan tukang ojek yang mengantar dirinya, bahwa ojek Curug Sawer adalah Ojek Kopassus alias ojek khusus yang untuk menjadi ojek disana harus mendapat brevet (maksunya ijasah kelulusan) hahaha… dimana ada latihan khusus dan harus diuji oleh yang berwenang (maksudnya ya entah itu koordinator atau organisasi perkumpulannya). Sementara untuk pengunjung umum yang naik motor hanya diijinkan sampai gerbang/pos jaga curug, dan harus diparkir disana.

Waktu tempu yang diperlukan saya kurang tahu pasti, tapi menurut perkiraan saya untuk naik ojek waktu yang diperlukan kurang lebih 20-30 menit, dan anda akan sampai di pos ojek dekat curug. Selanjutnya kita harus berjalan kaki turun ke arah curug kurang lebih 15-20 menit, sampai ketemu jembatan bambu dan gerbang masuk curug yang ada tulisan taman nasional, sebagai pertanda sudah sampai di lokasi. Subhanalloh ternyata lokasi Curug Sawer terjaga kebersihan dan kealamiannya, sangat menyegarkan, dingin dan rasanya di tenggorokkan maknyuss… “its time for narsis again… hahaha..!”. Pemandangan yang menakjubkan, diiringi suara deburan air terjun, dan kesegaran bias bias air yang terpencar, didukung dengan sarana dan prasarana seperti mushola, toilet, dan kamar mandi, serta penjaja makanan seperti bakso, indomie cup, minuman dan lain-lain. Sedikitpun tidak saya temui sampah makanan dan bungkus plastik yang berserakan, ini membuat saya senang, dan yang membuat saya senang lagi adalah perhatian tukang ojek anda sodara-sodara, ternyata mereka tidak begitu saja meninggalkan anda, mereka tetap sesekali mengikuti dan memberikan arahan apa apa saja yang diperlukan, emang topp begete lah tukang ojek di Curug Sawer ini. Lama-lama saya terobsesi jadi tukang ojek juga nih kayaknya.. wkwkwkwkwk.

Berikut foto foto yang dapat kami sajikan hasil jepretan amatir di curug:

SAM_1926 SAM_1927 SAM_1931 SAM_1935 SAM_1937 SAM_1939 SAM_1941 SAM_1942 SAM_1949 SAM_1953 SAM_1954 SAM_1957 SAM_1965 SAM_1967 SAM_1971 SAM_1974 SAM_1982 SAM_1984 SAM_1990 SAM_1996 SAM_2012 SAM_2013 SAM_2016 SAM_2019 SAM_2024 SAM_2034 SAM_2036SAM_1963 SAM_1992 SAM_2008 SAM_2017 SAM_2025

Setelah puas bersenang-senang dan bernarsis ria, saatnya untuk kembali ke vila, sebenarnya pengen lama, tapi apa daya batasan waktu ceck out vila sampai dengan jam 12 siang dan memberikan kesempatan tukang ojek untuk mencari penumpang lain membuat saya harus segera memutuskan kembali. Perjalanan kembali tentunya sama dengan saat datang, cuman bedanya harus naik saja, beruntungnya saat proses perjalanan kembali tidak hujan sampai saat saya tiba di vila. Sampai vila jam 10 an dan hujan turun dengan riangnya, saatnya untuk mandi air hangat dan berkemas-kemas. Selesai berkemas kita pamitan ke owner jam 12 sambil membayar bill makanan yang telah kita pesan sebelumnya, dan kita menunggu angkot warna merah (kalo gak salah no. 41) jurusan Situ Gunung – Cisaat. Dalam perjalanan naik angkot ini kita bisa bertanya tanya pada sopir letak toko jualan mochi kasuari cap lampion yang merupakan mochi paling enak dan paling lama di Sukabumi, dan jangan lupa nanya angkotnya yang warna apa. Enaknya angkot di Sukabumi adalah kita tidak akan salah angkot, karena warnanya yang berbeda sangat jelas dan mencolok, tidak perlu pusing menghapal nomornya. Turun di Pasar Cisaat (semacam ruko ruko) setelah itu kita bayar Rp.7.000/orang, dan disarankan naik angkot warna hijau dan nanti ganti angkot warna putih untuk kearah bhayangkara, ntar nanya lagi sama sopir angkotnya turun di toko mochi,  untuk kembalinya naik angkot kuning dan lanjut lagi ganti angkot warna hijau menuju stasiun sukabumi. Ongkos naik tiap angkot untuk jarak dekat adalah Rp.3.500/orang.

Selanjutnya saatnya balik ke rumah dengan naik Kereta Pangrango jam 15.30 sore, tidak lupa photo-photo lagi hahaha..

SAM_2055 SAM_2058 SAM_2059 SAM_2060 SAM_2065 SAM_2069 SAM_2070

RESUME BIAYA:

Secara ringkas dari perjalanan saya dapat saya hitung pengeluaran yang diperlukan aalah sebagai berikut:

  1. Tiket Kereta Rel Listrik Rp. 2.500,- kalo dari bojong-bogor, kalo dari manggarai Rp. 4.500/orang;
  2. Tiket Kereta Pangrango PP, Rp. 40.000/orang pulang pergi;
  3. Ojek ke Vila dari Sts. Cisaat Rp. 40.000/orang
  4. Biaya Penginapan vila Rp. 300.000/kamar untuk 3-4 orang dari jam 12 siang s.d. jam 12 siang lagi, mau anda datang malam pagi ato subuh pun, perhitungan kamar adalah jam tersebut dan tidak dapat diubah;
  5. Makan malam, sarapan, dan makan siang, relatif sesuai keinginan anda, untuk saya 2 kali indomie dan 1 kali nasi uduk (10 ribu + 10 ribu + 20 ribu) sama dengan Rp. 40.000;
  6. Tiket masuk wisata situ Rp. 13.500/orang dan curug Rp. 2.500/orang
  7. Naik perahu Rp. 10.000/orang
  8. Ojek ke Curug Sawer Rp. 50.000/orang;
  9. Angkot kalo hanya dari vila ke stasiun sukabumi cukup dua kali angko, angkot warna merah, nyambung angkot warna hijau (Rp. 7.000 + Rp. 3.500) total Rp.10.500; kalo anda mengambil trip sama seperti saya tinggal nambah dengan berapa kali ganti angkot ke toko kue mochi bisa 5 kali ganti angkot dari cisaat sampai kembali ke stasiun Sukabumi (7.000+ (5×3.500))=Rp.24.500/orang; Kalo beli kue moci umumnya harga di toko tersebut Rp. 35.000/ikat mochi atau per kotak, kemaren total beli 2 kotak dan 1 ikat mochi, 1 kotak kue bika sunda, 1 bungkus permen pastiles tradisional cuman habis Rp. 150.000,- kembali dikit;
  10. Tiket KRL pulang sama dengan angka 1;

Total pengeluaran kita berdua sebagai pelaporan keuangan keluarga, tanpa memperhitungkan KRL dan makan di stasiun Paledang yaitu kereta/80.000, ojek vila/80.000, vila/300.000, makan/40.000, tiket masuk/32.000, perahu/20.000, ojek curug/100.000, angkot/49.000, dan oleh-oleh/147.000. Dengan demikian total pengeluaran adalah Rp.848.000,- (delapan ratus empat puluh delapan ribu rupiah).

Demikian kiranya laporan saya dari perjalanan wisata tersebut, semoga dapat menjadi salah satu referensi para sobat blogger sekalian.. terima kasih dan mohon maaf atas kekurangan penyampaian saya.

Fin…………

5 Komentar»

  Parahita Satiti wrote @

Hai, Pak🙂 terimakasih ya sudah menjadikan postingan saya sebagai salah satu referensi pergi ke Situ Gunung.

Dan ga nyangka bisa ga sengaja ketemu sama pembaca blog di tempat wisata, hihi..

Kemarin akhirnya naik ojek ke Curug Sawer-nya? Ngalamin ‘kan jalanan yang aduhai itu. Saya pas pertama kali ke Curug Sawer, pulangnya naik ojek itu. Gerimis, jalanan menurun, dan ojeknya ngebut ga pake ngerem. Turun dari ojek dengkul lemes. Kalo kemarin sih saya nyoba jalan kaki lewat rute ojek itu, ternyata ga seserem kalo naik motor…

  Suganda Muji Saputro wrote @

Iya mbak, menjalin silaturrahmi kan memperpanjang umur, jangan lemes lemes toh mbak hehehe, trims ya referensinya.. photo dari fotografernya kemaren kurang bagus gak ada yang jadi, makanya ga di upload disini hahahaha

  omotu wrote @

mantapp..jon..

  alampangandaran.com wrote @

tata cara penulisan artikel yg rapih..salut bos. sampai kini ane lom bisa nyusun artikel se menarik yg agan posting di sini. bravo lah…
keep blogging ..

oh sekedar info juga ..di pantai pangandaran ada lokasi caving+body rafting yg baru. nama lokasinya GOA SINJANG LAWANG. silahkan cari info di sini..http://alampangandaran.com/
sekali lg terimakasih dah berbagi..

  Suganda Muji Saputro wrote @

Terima kasih anda telah sudi mampir, pujian anda belum pantas untuk ane gan.. karena ini juga baru belajar mungkin referensi dari blog lain yang saya baca dan mempengaruhi gaya penulisan ini hehehe.. akan saya pertimbangkan tawaran anda kayaknya sangat menarik, terima kasih sekali lagi telah mampir dan akan menjadi penyemangat saya untuk keep posting (kalo gak males hahahahaha)..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Nunna Lita

a little physics holic with big dreams, love, n imaginations :)

Ihsan Kusasi's note and gallery

setiap ujian bersanding jawaban... setiap perkara bernuansa makna...

some books to share from my little library

MasPatikraja

Mardawa lelakoning budaya kang wus ngancik wanci sandyakala

www.nurahmanafandi.com

Life will always have a different plan for you. If you don’t give up, you will eventually get to your destination. But towards the end of your life, you may look back and realize that it was never really about the destination; it was the journey that counted.”

Di Mana Bumi Dipijak Di Sana Langit Dijunjung

Sanguturu

Warungnya Lirik Lagu

Sampaikan Walau Satu Ayat

DIPERSILAHKAN JIKA INGIN MENGCOPY DAN MENYEBARLUASKAN ARTIKEL PADA BLOG INI.

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

%d blogger menyukai ini: