Sri Huning's

About me! tray to enjoy our existence… so there is …

Arsip untuk Pengetahuan Sejarah

Pasar Senen Station at the time 23.00 P.M. – 05.00 A.M. (Learning English)

Night trains from Java, usually arrived at Pasar Senen Station from eleven o’clock at night until five o’clock in the morning. People, whos have far destination (home), may be have troublesome, because the public transportations like bus, transjakarta, and commuter line was stopped in operation at that time. There are many transportation that available such as taxy or “ojek”. However, you must be cleaver for biding the price/tarrif, cause the driver will giving you high price. Some people like to waiting in front of station, they are just sitting or sleeping cause its very tired after  traveling, and they waiting for the morning when all public transportation begin operating their unit.

This experience have writen in my article, that considering from my experience on Saturday night, August 5th 2017. May be next time, train departmen start to thinking about the solution for help their pasengger.

Iklan

Nitip Artikel Bagaimana Cara Menghadapi Debat Dengan Khilafah ala HTI

Pertama yang perlu saya sampaikan sebagai bloger disini, bahwa sekarang saya mulai tertarik untuk mulai menambah koleksi terkait artikel terkait dengan kesamaan pemahaman atau ideologis, yang nanti sekiranya penulis perlukan. Dalam hal para pembaca ingin ikut membaca atau copas ya moggo, karena artikel tersebut bukan dari saya.

Untuk saat ini saya mulai dari temuan saya terhadap artikel dengan judul tulisan yang diadaptasi dari tulisan Dr. H. Ainur Rofiq Al-Amin, SH, M.Ag yang berjudul : Koreksi Argumentasi Sejarah Antara Khilafah, NU dan KH. Wahab Hasbulloh yang dimuat Muslimmedianews , yang selanjutnya juga dipublish dalam http://www.gerilyapolitik.com/terbongkar-ini-kesaksian-mantan-aktivis-hti-tentang-kebohongan-proyek-khilafah/

Membongkar Kebohongan Proyek Khilafah
Ide tentang penegakan kembali khilafah, sebagaimana saya jelaskan dalam disertasi, disuarakan dengan sangat lantang dan nyaring oleh kelompok Islam kanan, utamanya Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Secara berulang-ulang kelompok ini, lewat tulisan, orasi, dan lainnya, menyuarakan pentingnya menegakka khilafah. Khilafah menjadi mainstream perjuangan, bahkan ideologi politiknya, dengan klaim sebagai solusi atas seluruh problem manusia di dunia ini.

Kelompok ini dengan semangat militan berupaya merekrut kader sebanyak-banyaknya, tak terkecuali kader dari ormas-ormas keagamaan baik NU maupun Muhammadiyah. Dalam upaya merekrut kader dari kalangan NU, mereka menggunakan berbagai argumen yang diharapkan agar kader-kader NU yang tulus dan lugu ini tertarik menjadi pengikutnya.

Nampaknya, argumen-argumen yang dikemukakan oleh aktivis HTI juga dapat memikat kader NU, terbukti beberapa kader NU menjadi anggota Hizbut Tahrir (termasuk penulis yang dulu juga pernah menjadi anggota Hizbut Tahrir).

Argumen yang dijadikan pijakan oleh aktivis HTI untuk menundukkan kader dan warga NU paling tidak ada dua: pertama; argumen historis kelahiran NU. Salah seorang aktivis HTI, Irkham Fahmi dalam tulisannya, “Membongkar Proyek Demokrasi ala PBNU abad 21” menjelaskan bahwa cikal bakal berdirinya Nahdlatul Ulama adalah cita-cita agung para ulama nusantara yang tertuang dalam komite khilafah Indonesia.

Selanjutnya Irkham Fahmi menegaskan bahwa KH. Sholahuddin Wahid mengakui keabsahan sejarah ini, sekalipun Gus Sholah menolak relevansi khilafah dengan Indonesia.

Masih banyak lagi tulisan-tulisan sejenis apabila kita berselancar di internet seperti judul, “KH. Abdul Wahab Hasbullah, Tokoh NU & Inisiator Konferensi Khilafah 1926,” atau judul, “NU, NKRI dan Khilafah,” demikian pula judul, “Warga NU Rindu Syariah dan Khilafah,” judul lain, “Respon NU atas Runtuhnya Khilafah,” bahkan tidak hanya mencatut NU, tapi juga ormas Islam lain seperti judul, “Generasi Awal Muhammadiyah & NU Ternyata Pendukung Khilafah.” Basis argumen dari semua judul di atas adalah masalah komite khilafah.

Untuk menjawab argumen di atas, secara historis memang pernah terbentuk apa yang disebut komite khilafah atau CCC (Central Comite Chilafah). Namun yang perlu diklarifikasi adalah, komite ini bukan dibentuk Mbah Wahab, tapi bentukan berbagai kelompok Islam (SI, Muhammadiyah, al-Irsyad, PUI, dll) yang pada waktu itu mempunyai suara mayoritas.

Sekalipun bisa jadi Mbah Wahab dan ulama lain dari kalangan pesantren pernah diajak untuk masuk komite ini. Bukti bahwa komite khilafah bukan bentukan Mbah Wahab dan para ulama pesantren adalah pada kongres-kongres selanjutnya para ulama ini tidak mengikutinya.

Justru yang perlu ditegaskan, selain ada komite khilafah, terdapat komite Hijaz yang memang genuine atau asli bentukan para ulama pesantren yang nantinya bergabung dengan NU.

Komite Hijaz ini lahir, selain tidak sepahamnya Mbah Wahab dengan misi komite khilafah, juga karena kurang aspiratifnya komite ini, juga semangat memperjuangkan tradisi ala ulama seperti ziarah kubur, merayakan maulid Nabi, berislam dengan cara bermazhab agar tidak diberangus oleh kelompok al-Saud atau Wahhabi yang saat itu sampai sekarang berkuasa di Hijaz dan sekitarnya.

Komite Hijaz inilah salah satu cikal bakal kelahiran NU. Akhirnya menjadi tidak benar kalau cikal bakal kelahiran NU adalah dari komite khilafah yang berusaha melakukan pertemuan internasional untuk membahas runtuhnya Turki Utsmani.

Argumen kedua diambilkan dari teks-teks khilafah dalam kitab kuning. Para aktivis HTI memahami bahwa ulama dan kader NU sangat mencintai kitab kuning yang ini dibuktikan dengan diajarkannya kitab-kitab tersebut di pesantren-pesantren NU, sekaligus kitab-kitab ini menjadi rujukan dalam bahtsul masail NU ketika menghadapi suatu masalah baru dalam keagamaan.

Salah seorang penulis dan aktivis HTI, Musthafa A. Murtadlo menulis sebuah buku saku untuk memperkuat argumentasi khilafah dengan mengumpulkan pendapat-pendapat para ulama salaf tentang hal tersebut.

Inti dari buku saku tersebut adalah semua ulama salaf dalam kitab kuning yang menjadi rujukan NU mendukung ide khilafah. Lihat Musthafa A. Murtadlo, Aqwal Para Ulama’ Tentang Wajibnya Imamah (Khilafah).

Argumen kedua ini kalau tidak dicermati secara jeli, maka para kader NU yang tulus dan bergelut dengan kitab kuning akan sangat mempercayainya kemudian mengapresiasi atau bahkan ikut HTI. Namun yang perlu diketahui bahwa konsep atau pemikiran tentang kepemimpinan umat Islam dari para ulama salaf tersebut tidak sama persis dengan yang ditelorkan oleh Hizbut Tahrir.

Selain itu, dalam kitab-kitab klasik tersebut hampir semua tema besarnya menyebut kata al-imamah atau al-imam al-a’zhom. Penyebutan khilafah lebih jarang, hal ini berbeda dengan Hizbut Tahrir yang lebih sering menyebut khilafah sebagai jargón perjuangannya. Bisa diambil contoh dalam kitab-kitab klasik mazhab al-Syafi’i seperti kitab al-Umm juz 1/188 karya al-Syafi’i, al-Ahkam al-Sulthaniyyah, hal. 5 karya al-Mawardi, Rawdhat al-Thalibin wa ‘Umdat al-Muttaqin juz 10/42 karya al-Nawawi, Minhaj al-Thalibin juz 1/292 karya al-Nawawi, Asna al-Mathalib juz 19/352 karya Zakariya al-Anshari, Fath al-Wahhab juz 2/187 karya Zakariya al-Anshari, Minhaj al-Thullab juz 1/157 karya Zakariya al-Anshari, Tuhfat al-Muhtaj juz 9/74 karya Ibn Hajar a-Haytami, Mughni al-Muhtaj juz 5/409 karya Ahmad al-Khathib al-Syarbini, Nihayat al-Muhtaj juz 7/409 karya al-Ramli.

Terakhir dan yang terpenting, untuk menjawab argumen yang kedua sekaligus memperkuat bantahan untuk argumen yang pertama. Kalau para kader NU yang hidup sekarang ini ketika memahami teks-teks kitab kuning tentang imamah atau imam a’zhom tidak melewati model pemahaman sekaligus “bertawassul” lewat Mbah Wahab (KH. Wahab Hasbullah), maka akan mudah tertarik untuk ikut memperjuangkan khilafah ala HTI.

Perlu diketahui, Mbah Wahab dalam pidatonya di parlemen pada tanggal 29 Maret 1954 yang dimuat dalam majalah Gema Muslimin (copy arsip ada di penulis) dengan judul, “Walijjul Amri Bissjaukah” mengatakan,
“Saudara2, dalam hukum Islam jang pedomannja ialah Qur’an dan Hadits, maka di dalam kitab2 agama Islam Ahlussunnaah Waldjama’ah jang berlaku 12 abad di dunia Islam, di situ ada tertjantum empat hal tentang Imam A’dhom dalam Islam, jaitu bahwa Imam A’dhom di seluruh dunia Islam itu hanja satu.

Seluruh dunia Islam jaitu Indonesia, Pakistan, Mesir, Arabia, Irak, mupakat mengangkat satu Imam. Itulah baru nama Imam jang sah, jaitu bukan Imam jang darurat. Sedang orang jang dipilih atau diangkat itu harus orang jang memiliki atau mempunyai pengetahuan Islam jang semartabat mudjtahid mutlak. Orang jang demikian ini sudah tidak ada dari semendjak 700 tahun sampai sekarang.

Kemudian dalam keterangan dalam bab yang kedua, bilamana ummat dalam dunia Islam tidak mampu membentuk Imam A’dhom jang sedemikian kwaliteitnja, maka wadjib atas ummat Islam di-masing2 negara mengangkat Imam jang darurat. Segala Imam jang diangkat dalam keadaan darurat adalah Imam daruri……..Baik Imam A’dhom maupun daruri, seperti bung Karno misalnja, bisa kita anggap sah sebagai pemegang kekuasaan negara, ialah Walijjul Amri.”

Pidato Mbah Wahab di atas setidaknya dapat ditarik tiga pemahaman: pertama, bahwa mengangkat kepemimpinan tunggal dalam dunia Islam baik yang disebut dengan imamah maupun khilafah sudah tidak mungkin lagi karena syarat seorang imam yang setingkat mujtahid mutlak menurut Mbah Wahab sudah tidak ada lagi semenjak 700 tahun sampai sekarang. Kedua, dari pidato tersebut juga dapat ditarik kesimpulan bahwa presiden Indonesia berikut NKRI adalah sah secara hukum Islam.

Ketiga, pidato ini sekaligus menafikan pendapat bahwa Mbah Wahab bercita-cita menegakkan kembali khilafah dengan membentuk komite khilafah, karena terbukti Mbah Wahab menjelaskan bahwa sudah 700 tahun tidak ada orang yang setingkat mujtahid untuk menduduki kursi sebagai Imam atau khalifah.

Baca:

Lantas, apa ratio legis Mbah Wahab dengan mengajukan argumen bahwa khilafah sudah tidak mungkin lagi karena syarat seorang imam yang setingkat mujtahid mutlak sudah tidak ada lagi sejak 700 tahun.

Kalau kita membuka lembaran kitab kuning semisal al-Ahkam al-Sulthaniyyah karya Imam al-Mawardi, di situ dijelaskan bahwa ahlul imamah (orang yang berkualifikasi menjadi imam) harus memenuhi syarat adil, berilmu yang mampu untuk berijtihad, selamatnya pancaindera dan fisik dari kekurangan, wawasan kepemimpinan yang luas, keberanian dan nasab Quraisy.

Poin tentang berilmu yang mampu untuk berijtihad inilah nampaknya yang dijadikan pijakan Mbah Wahab.

Menarikanya lagi, dalam pidato tersebut, Mbah Wahab menjelaskan lebih lanjut bahwa karena syarat menjadi imam a’dhom (seperti dalam al-Mawardi) sudah tidak terpenuhi, maka Soekarno absah menjadi pemimpin RI dengan gelar waliyyul amri ad-daruri bissyaukah. Artinya syarat pemimpin yang ideal diturunkan menjadi syarat minimal realistis.

Dengan demikian, dapat ditarik kesimpulan lain bahwa Gus Dur yang mempunyai kekurangan fisik juga absah menjadi presiden, karena memang presiden tidak sama dengan imam a’dhom sehingga syarat ideal seperti dalam al-Mawardi tidak diperlukan.

Dari uraian singkat di atas, warga dan kader NU sudah tidak perlu lagi terlibat dengan ikut memperjuangkan ide khilafah. Justru yang penting adalah mengisi NKRI supaya bersih dari korupsi dan menjadi negara yang adil dan sejahtera.

Di luar itu, soal kepemimpinan akhir zaman yang mengglobal, kita serahkan saja kepada a waited savior yang dipercaya oleh semua agama dengan berbagai sebutannya: al-Mahdi (Islam), Christos/Christ (Kristen), Ha-Mashiah (Yahudi), Buddha Maytreya (Budha), Kalki Avatar (Hindu), atau Shousyant (Majusi/Zoroaster).

Terlebih hadis yang menjelaskan tentang Imam Mahdi ini mutawatir tidak seperti hadis tentang khilafah (Lihat kitab Nazhmul Mutanatsir minal Haditsil Mutawatir karya Syekh Muhammad bin Ja’far Al- Kattani, dan Asy-Syaukani yang berjudul At-Taudhih Fi Tawaturi Maa Ja-a Fil Mahdil Muntazhor wad-Dajjal wal-Masih). Dengan cara demikian, rakyat Indonesia tidak akan terpecah pikiran dan energinya untuk membongkar NKRI, tapi justru membangunnya demi keadilan, kesejahteraan, dan kedamaian untuk semua warga bangsa. Wallahu a’lam.

Judul tulisan diadaptasi dari tulisan Dr. H. Ainur Rofiq Al-Amin, SH, M.Ag yang berjudul : Koreksi Argumentasi Sejarah Antara Khilafah, NU dan KH. Wahab Hasbulloh yang dimuat Muslimmedianews

Nitip kostum dream league

Periode Rehat Writing at WordPress

situ-tonjong

Assalammua’laiakum Wr. Wb.
Salam Sejahtera bagi kita semua…

Kali ini saya menyapa kembali kawan kawan di dunia maya… atau istilah lainnya para blogger dan stakeholder yang memanfaatkan internet. Sudah lama saya tidak aktif menulis kembali, selain karena masa periode jarang piknik hahhahaha, juga memang lagi banyaknya pekerjaan di akntor yang sudah membuat lelah jiwa ini. Namun diluar alasan tersebut, salah satu periode kelam jagat perpolitikkan negeri kita ini juga memiliki pengaruh yang besar, saya males bersentuhan dengan internet dengan banyaknya berita berita yang kurang sedap dengan hoax hoax dan propaganda-propaganda dari berbagai pihak. Saya sangat menjauhi hal ini agar tidak turut memanaskan situasi yang sekarang ini lagi “umup”.

Bahkan sekarang ini saya sudah uninstal aplikasi FB saya sehingga turut mengurangi untuk gatal berkomentar atau berposting ria yang nantinya dapat berefek buruk bagi saya dan teman teman saya (banyak pertemanan pecah gara gara berbeda ideologi dan pandangan terkait isu isu sekarang ini). Tapi itu pilihan pribadi masing-masisng yang juga harus dipertanggungjawabkan oleh diri masing-masing, karena saya menganggap teman-teman sudah pada dewasa, apalagi sekarang ini sudah ada Undang-Undang ITE yang sudah direvisi. Selain FB, saya juga banyak keluar group agar menahan diri saya berkomentar atau berkata buruk terhadap teman teman yang lain dalam satu group, meskipun sudah saya ingatkan agar group WA digunakan sesuai dengan tujuannya untuk membuat guyub rukun sesama teman dan alumni dan jangan menulis yang berbau SARA, kecuali memang group-nya ditujukan untuk berdebat silahkan, karena termasuk group khusus.

Prinsip saya selama ini terkait dengan fenomena perpolitikan saat ini adalah, bahwa saya punya idola dan pandangan, ideologi, serta pendapat yang independen tanpa dipengaruhi oleh kawan-kawan lain, Namun sebagai abdi negara dan warga negara yang bertika dalam mewujudkan kondisi yang adem ayem, saya tidak akan pernah memposting konten apapun terkait SARA dan Politik saat ini di akun Medsos saya, saya memilih untuk bertatap muka face to face ngobrol ala warkop dengan teman atau tetangga saya, layaknya yang sudah saya lakukan saat ini, sehingga lebih sehat dan lebih bisa menagkap maksud dan tujuan pembicaraan tanpa ada rasa saling membenci antara satu sama lain.

Baiklah, mungkin itu saja yang dapat saya sampaikan curcol sepatah duapatah dan berpatah patah kata dan kalimat, semoga saya lebih bersemangat lagi ingin menulis dan berbagi konten yang positif dan bermanfaat. Daripada pusing dan uring-uringan, ada baiknya saya mengajak kawan kawan utnuk bernyanyi saja, dengan menggunakan lirik yang sudah saya bagikan dalam akun wordpress saya hehehehehe….

Akhirul kata… menulis dan berkomentarlah dengan sopan, yang menunjukkan seberapa dewasa dan pantasnya anda dapat dihormati oleh orang lain, semoga kondisi NKRI kita ini semakin membaik. dan tak lupa saya turut mengucapkan duka cita (innalillahi wa innailaihi rojiun) atas musibah bencana gempa bumi di Aceh, semoga kawan kawan kita disana berikut keluarganya diberikan kesabaran dan ketabahan dalam menghadipi cobaan dari Alloh SWT.. Aamiin YRA

Wassalammua’laikum Wr. Wb.

Ruang Penyimpan Media Kecil Saya

suganda logo cooltext118427482691985 cooltext118439815272968 Logo Blu baru1yahookuPicture1surimail akun fb kuemailku

Pemandangan dan Keindahan Pulau Weh-Sabang

SAM_2221

Sambil menyelam minum air, mungkin istilah tersebut sangat pas untuk menggambarkan perjalanan dinas saya saat ke Pulau Weh-Sabang. Tujuan kami (tim monev PPK BLU) adalah ke salah satu satker BLU pengelola kawasan di Indonesia yaitu Badan Pengelola Kawasan dan Perdagangan Bebas Sabang (BPKS).

Persiapan tentunya mulai dari tiket pesawat Garuda Promo PP dari Jakarta-Banda Aceh dengan kisaran harga Rp.3.823.300,- via Medan, dimana untuk jadwal keberangkatan pagi ke banda Aceh hanya ada yang transit via Medan. Jangan kaget untuk penerbangan dari Bandara Sultan Iskandar Muda anginnya terlalu kencang, membuat perasaan kita was was karena guncangan pada badan pesawat yang lumayan membuat hati kecut.

Dalam kesempatan kali ini bukan berarti saya bercerita bahwa perjalanan dinas adalah bersenang-senang saja, tapi kalo mencari sedikit kesenangan berupa obyek wisata alam di antara padatnya tugas apa salahnya bagi kami. Baiklah, untuk urusan tugas kita buang jauh-jauh dari untaian cerita dalam posting kali ini, kita fokus pada keindahan alam yang ada di ujung bumi nusantara ini.

Untuk mencapai Sabang, hanya kapal fery atau kapal express satu satunya alternatif yang dapat kita andalkan, dengan tarif untuk kelas VVIP kapal express kita cukup dikenakan biaya Rp.210.000,- pulang pergi, yang berarti sekali jalan cukup Rp. 105.000,- murah kan? he he he. Pelabuhan Ulee Lheu adalah pelabuhan penyeberangan dari Banda Aceh menuju Pelabuhan Balohan Sabang.  SAM_2080SAM_2081 SAM_2082 SAM_2085

Gambar suasana pelabuhan Balohan Sabang SAM_2087 SAM_2088 SAM_2089 SAM_2090SAM_2091

Perjalanan dari pelabuhan menuju penginapan menyajikan pemandangan yang cukup menarik dengan jalan berliku nan naik turun, terpampang pemandangan danau yang cukup menarik.

SAM_2097SAM_2098 SAM_2102 SAM_2110 SAM_2111

Selama 3 hari 2 malam kami berada di Sabang, dan disela sela waktu tersebut terdapat kesempatan untuk menikmati wisata pantai di Sabang. Dengan sewa motor Rp.100.000/motor/hari kami dapat berkeliling dengan puas. Pantai yang sempat kami kunjungi adalah Pantai Sumur Tiga, Pantai Iboih, dan Pantai di penginapan Cassa Nemo.

SAM_2135 SAM_2136 SAM_2141 SAM_2143 SAM_2157 SAM_2160 SAM_2165 SAM_2167 SAM_2168 SAM_2177 SAM_2190 SAM_2192 SAM_2193 SAM_2221

Kota Sabang adalah kota yang menarik dan cocok untuk mereka yang mencari ketenangan. kota yang kecil dengan jalanan yang lenggang dan udara yang segar khas daerah pantai, seakan mengingatkan saat saya empat tahun tinggal di Nabire-Papua, bedanya hanya di kehidupan malam, dimana Kota Sabang sebagai salah satu daerah Provinsi Nangroe Aceh Darussalam tentunya tak luput dari kehidupan penduduk yang gemar akan kopi dan nongkrong di warung hingga tengah malam lewat. Pulau Weh-Sabang merupakan pulau berbukit dengan hutan lindung yang masih cukup asri, bahkan para monyet berkembang biak di hutan Sabang dengan aman, lengkap sudah kondisi geografis kota Sabang yang menarik tersebut tentunya.

Untuk rekomendasi penginapan, mungkin anda bisa mencoba dimana kami menginap, dengan rate yang cukup bagus di kantong anda Rp.300.000/Standard, Rp.450.000/superior, dan Rp.600.000/deluxe

Sabang2Sabang

Tidak lengkap bila saya tak menceritakan salah satu hal penting yang membuat Sabang terkenal, yaitu sebagai patok Nol kilometer Indonesia. Dengan demikian lengkap sudah dari ujung barat sampe ujung timur saya datangi.

SAM_2125 SAM_2126 SAM_2128 SAM_2129 SAM_2130 SAM_2131

Akhir kata mari kita ngopi bareng di di Sabang di tepi pantai yang menarik tapi jangan berlebihan, kopi Aceh terkenal cukup keras dan bikin yang kuat kelimpungan gak bisa bobo nyenyak. Terima Kasih

SAM_2205

Secuplik dari Bengawan Brantas

SAM_1348
Bengawan Brantas atau lebih dikenal dengan nama Kali Brantas merupakan sungai terpanjang dan terbesar kedua di Pulau Jawa. Informasi mengenai Kali Brantas dapat anda peroleh dengan lengkap di http://id.wikipedia.org/wiki/Sungai_Brantas.

Penulis tidak ingin mengulas secara panjang lebar terkait dengan Kali Brantas ini, karena tujuan penulis adalah hanya untuk menggambarkan secuplik bagian dari Kali Brantas yang telah anda lihat di Foto terpampang diatas (penulis). Kali Brantas yang ada di foto tersebut terletak di belakang rumah mertua penulis (Sumber Agung-Megaluh, Kab. Jombang). kali tersebut telah memisahkan dua desa dan dihubungkan melalui “getek” sejenis kapal tradisional penyebrangan, yang mampu mengangkut penumpang manusia dan sepeda motor/sepeda seperti foto berikut: IMG_20140729_090826. Untuk menaiki getek ini anda hanya cukup merogoh kocek sebesar Rp.5000,- per orang.

Sepanjang kali Brantas terbentuk tebing/bukit yg tinggi dan menghijau dengan rerumputan, dimana banyak orang “angon” atau menggembalakan kambing. Anda akan merasa senang sekedar memandang kali Brantas yang lebar dan tenang. Namun bagi yg kurang suka berpanas panas ria jangan lama di kawasan kali Brantas, dikarenakan terik matahari yang menyengat.

Kali Brantas tak luput dari beberapa mitos yang menyertainya, mulai dari buaya jadi jadian, keangkeran sebagai tempat pembunuhan masal tahanan Gestok, sampai dengan dilarang menikah antara Brang Wetan (Brantas) dengan Brang Kulon (Brantas). Tapi itu semua hanya sekedar menjadi tahu saja, dan tidak perlu difikirkan terlalu dalam.

Demikian kiranya secuplik cerita dari secuil bagian kali Brantas yang penulis dapat sampaikan. Sebelumnya penulis ucapkan mohon maaf dan terima kasih atas kekurangan dan kontribusi yang mungkin dapat pembaca tambahkan.
Wassalaamu’alaikum wr. wb.

nunnalita

be bright and shine together with Najmi ^^

Ihsan Kusasi's note and gallery

setiap ujian bersanding jawaban... setiap perkara bernuansa makna...

perpuskecil.wordpress.com/

some books to share from my little library

MasPatikraja

Mardawa lelakoning budaya kang wus ngancik wanci sandyakala

www.nurahmanafandi.com

Life will always have a different plan for you. If you don’t give up, you will eventually get to your destination. But towards the end of your life, you may look back and realize that it was never really about the destination; it was the journey that counted.”

rajaagam.wordpress.com/

Di Mana Bumi Dipijak Di Sana Langit Dijunjung

Sanguturu

Warungnya Lirik Lagu

Sampaikan Walau Satu Ayat

DIPERSILAHKAN JIKA INGIN MENGCOPY DAN MENYEBARLUASKAN ARTIKEL PADA BLOG INI.

Catatan Harta Amanah Soekarno

as good as possible for as many as possible

Sri Huning's

About me! tray to enjoy our existence... so there is ...